Inilah Sebabnya Banyak Profesor di Negeri Ini Enggan Tinggal di Indonesia
profesor Indonesia,yang enggan tinggal di Indonesia..from Google
Tentang berapakah jumlah profesor yang asli orang Indonesia,baik yang tinggal di dalam negeri atau yang masih nyaman berada diluar negeri,selama ini saya belum tahu pasti berapakah jumlahnya,tapi jika mau di teliti dan di sensus tentulah banyak,bahkan jumlahnya bisa mencapai ribuan.
Tetapi kenapa selama ini,peran Profesor dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan mutu peningkatan kemandirian dalam segenap bidangnya untuk negeri ini,terlihat masih begitu kurang dirasakan.Apakah yang menjadi sebabnya,padahal profesor di negeri ini sangatlah banyak,tapi kenapa kemajuan,dan kemandirian negeri ini masih terasa begitu lambat.
Profesor di Indonesia,biasanya mendapatkan gelarnya ketika umurnya tidak lagi muda.Di Indonesia meskipun ada yang muda,tentu mendapatkannya butuh perjuangan yang sangat panjang,selain berurusan dengan segenap keterbatasan,baik dari segi legalitas,dukungan pemerintah,sarana dan prasarana untuk mengembangkan penelitian,dan segenap elemen yang berkaitan erat terhadap kinerja profesor dalam mengembangkan temuannya.
Perhatian Pemerintah Indonesia terhadap kesejahteraan Profesornya masih sangat minim,hal itu terlihat dari gaji yang di terima oleh seorang Profesor golongan IV/E yang kesehariannya bekerja di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia),yang mendapatkan gaji setiap bulannya Rp.3.6 juta perbulan,ditambah tunjangan peneliti Rp.1.6 juta perbulan jadi total yang di terima hanya Rp.5.2 juta perbulan (kompas.com)
Gaji seorang profesor di negeri ini,lebih rendah ketimbang gaji seorang guru sekolah dasar.Gaji seorang guru sekolah dasar di Jakarta saja,yang sudah masuk sertivikasi bisa mendapatkan gaji lebih dari Rp. 8 Juta perbulannya.(harian Kompas selasa,25/10/2011)
Padahal jika bicara tentang pengabdian,mereka para profesor yang bekerja dengan panggilan hati sudah berpuluh-puluh tahun,mengabdikan diri untuk kemajuan negeri ini.
Lain halnya jika kita membicarakan Negara-negara di luar Indonesia,di Luar negeri sana,seorang profesor benar-benar mendapatkan tempat yang “Istimewa”,dengan segenap kemudahan yang di tawarkan,mereka tahu benar bahwa kehadiran seorang profesor akan mendatangkan kebaikan dan kemanfaatan yang akan banyak dirasakan oleh suatu negeri itu.
Contohnya saja,Prof.Dr.Ing.Bj Habibie,yang lebih memilih tenang tingal di Jerman,karena dia merasa lebih “di hargai” di sana,ketimbang menetap di Indonesia.Saya yakin,masih banyak profesor Indonesia yang merasakan hal yang sama terhadap apa yang di alami oleh Prof.Bj Habibie,mereka enggan untuk pulang ke Indonesia,karena mereka khawatir Ilmunya,temuannya tak lagi di hargai dan diminati oleh pemerintah.
Di samping,kita juga harus maklum bahwa tingkat pendidikan kita masih kalah jauh dengan negara-negara lain,itulah yang kadang juga yang menjadi alasan kenapa Profesor Indonesia enggan pulang,karena mereka bingung apa yang mereka temukan,tak bisa di terapkan di tanah air.
Jadilah,Indonesia negara yang Kaya Profesor,tapi miskin Keilmuan,miskin Perhatian,dan gila menumpuk kekayaan pribadi.
Kita sangat merindukan sosok profesor yang dengan keikhlasan hati,bekerja sepenuh hati untuk memajukan Negeri yang Kita Cintai ini.Meski harus rela “di hargai”,dengan jumlah yang sangat rendah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar